Oleh: Hairul Amin
Di balik jendela kereta yang berlari,
tiang-tiang listrik menari,
seperti harapan yang terkadang kabur –
namun gunung di kejauhan tetap diam,
menunggu kita tiba dalam diri kita sendiri.
“Jangan buru-buru besar, karena luka juga butuh masa kecilnya”
begitu bisik angin di atas sawah basah,
di mana petani dan langit sepakat:
segala yang bertumbuh, harus sabar melawan badai.
Di rel yang tak pernah berbalik,
kita -manusia Gen Z- terburu-buru mencari jawaban,
padahal kadang,
diam adalah perjalanan yang paling dalam.
“Perjalanan bukan tujuan, tapi cara merawat hati yang terus berjalan.”
Terkadang kita terlalu sibuk mengejar gambar yang sempurna,
lupa bahwa kabur pun adalah bagian dari keindahan.
Merapi mengajarkan,
bahwa yang kuat bukan yang bergerak cepat,
tetapi yang setia menunggu,
yang tabah berdiri meski langit berkali-kali berubah warna