Gelar Syawalan, FLP Yogyakarta Soroti Visi Dakwah Kepenulisan

Masih dalam bulan Syawal, FLP Yogyakarta menggelar acara Syawalan pengurus pada Ahad (22/5). Syawalan bisa dimaknai sebagai pertemuan yang direncanakan oleh suatu kelompok masyarakat untuk melakukan silaturahmi, saling memaafkan, dan memulai kehidupan baru setelah menjalankan ibadah Ramadan selama sebulan penuh.

Bertempat di kediaman salah satu pengurus, acara ini sekaligus menjadi temu offline perdana bagi para pengurus periode 2021-2023 ini. Akibat pandemi Covid-19, semua agenda yang dijalani kepengurusan ini memang berlangsung secara daring, termasuk pemilihan ketua baru yang menjadi titik awal periode kepengurusan.

Pada kesempatan ini, para pengurus saling berbagi cerita tentang ekspektasi masing-masing ketika bergabung dengan FLP Yogyakarta. Rupanya, hampir semua pengurus yang hadir memiliki harapan yang sama, yaitu adanya tempat untuk belajar dan berbagi bersama kawan-kawan sevisi-seperjuangan. Hanya saja, kondisi pandemi memang sempat membuat forum-forum yang seharusnya menjadi wadah berdiskusi menjadi mandek.

“Dari apa yang teman-teman sampaikan, kita bisa mulai mengaktifkan kembali grup angkatan sebagai langkah awal membangun komunikasi di antara anggota-anggota FLP Yogyakarta,” ujar Sekretaris Umum FLP Yogyakarta, Luqman Fikri Amrullah.

Selain kuantitas pertemuan, kesamaan isu dakwah kepenulisan yang akan dikedepankan juga berperan dalam menyatukan gerak langkah anggota dan pengurus FLP Yogyakarta. Tanpa adanya pertemuan intensif, peluang untuk mendiskusikan visi yang sama-sama dicitakan para pengurus tersebut sangat kecil.

“Visi dakwah kepenulisan kita belum sama. Maksudnya, kita belum punya isu-isu tertentu yang dipilih dan mau lebih banyak dibahas pada kepengurusan ini,” lanjut Fikri.

Dengan kondisi pandemi yang berangsur-angsur mereda dan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang tidak seketat sebelumnya, diharapkan forum-forum tatap muka bagi pengurus dan anggota FLP Yogyakarta kembali diadakan secara rutin.

“Kelas-kelas dan forum-forum offline memberikan kesan yang berbeda, misalnya kita jadi bisa bertemu dengan rekan seperjuangan dan pembicara-pembicara yang hebat,” pungkas Fikri.*(FFP)

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: