Gol A Gong Beberkan Dua Persoalan Literasi Indonesia

Dewan Penasihat Forum Lingkar Pena (FLP) Gol A Gong menyebut akses buku yang susah dan distribusi buku yang tidak merata merupakan persoalan utama literasi di Indonesia. Hal ini disampaikannya pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) FLP ke-5, Jumat (19/11) yang berlangsung secara daring.

“Persoalan literasi di Indonesia ini hanya dua hal. Satu, akses buku yang susah, misalnya terkait keberadaan perpustakaan, sehingga pegiat literasi membuat taman bacaan masyarakat sebagai partisipasi publik. Kedua, adalah distribusi buku yang tidak adil. Kalau kita mengirim buku ke Papua, harga buku lima puluh ribu, ongkos kirimnya mencapai 125.000 per buku,” paparnya.

Duta Baca Indonesia 2021 ini membeberkan fakta dari Perpustakaan Nasional bahwa 90 orang di Indonesia mengakses satu buku, padahal idealnya satu orang mengakses tiga buku. Salah satu yang diharapkan mampu mendukung iklim literasi ini, menurutnya, adalah adanya peraturan daerah (perda) perbukuan di tiap daerah.

“Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang Sistem Perbukuan Nomor 3 Tahun 2017, tetapi itu tidak ditindaklanjuti oleh daerah, misalnya dengan membuat perda. Akibatnya, instansi seperti dinas pendidikan dan perpustakaan daerah di provinsi tidak punya payung hukum untuk mengembangkan ekosistem perbukuan,” terangnya.

Gol A Gong juga menyebut bahwa FLP berpeluang besar sebetulnya untuk mengisi kekosongan yang terdapat pada dunia literasi nasional.

“Saya ingin FLP di kepengurusan yang baru ini bisa mendorong eksekutif dan legislatif di daerah agar berperan maksimal membuat perda sehingga ekosistem perbukuan Indonesia terbentuk lebih baik,” ucap penulis dengan nama asli Heri Hendrayana Harris ini.

Selain itu, dia juga mengusulkan satu solusi praktis yang menekankan peran Undang-Undang Sistem Perbukuan tersebut.

“Andai saya seorang pengusaha, saya akan membuat perusahaan di Papua dengan mesin cetak untuk dikirim lewat jalan tol laut, sehingga ongkos produksi menjadi lebih mudah karena ada payung hukumnya. Penulis-penulis di Indonesia Timur, misalnya, tidak perlu lagi gelisah kalau ingin buku karya saya. Saya tinggal kirim (berkas) PDF saja ke Papua, Nusa Tenggara Timur, atau Maluku, lalu dicetak di sana. Jadi, otonomi daerah ini menjadi sesuatu yang sempurna tidak hanya di bibir,” pungkasnya. *FFP

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: