MELEPAS JEBAKAN DE JURE

@muflihin_ibnu_m.nur

Saya jadi teringat tentang konsep Akal Merdeka yang digagas oleh ulama dan pemikir kondang negeri ini, Muhammad Natsir, yang kemudian dibukukan bersama gagasan-gagasan beliau lainnya dengan judul Islam dan Akal Merdeka.

Di dalam buku beliau tersebut menjelaskan tentang pentingnya kita memiliki akal yang merdeka. Saking pentingnya, sampai-sampai sama pentingnya atau bahkan bisa jadi lebih penting dari kemerdekaan de jure itu sendiri. Sebab saat ini kita merdeka secara de jure, tetapi tanpa disadari justru terjajah dalam pemikiran kita sendiri. Kita merasa bahwa kita tidak dalam kondisi terjajah.

Coba renungkan dari bangun pagi sampai tidur lagi malamnya, bagian mana yang kita produksi? Mulai dari kasur, alat kamar mandi, makanan yang kita makan, obat-obatan, alat kesehatan, kendaraan, alat komunikasi, laptop, alat dapur, dan lain sebagainya. Kalau toh buatan dalam negeri hampir pasti bahan tekstilnya diimpor juga. Ya paling minim saham, merek dagang dan licensinya adalah milik asing.

Merdeka secara de jure, membuat akal merdeka kita lupa bahwa sang penjajah juga tidak harus berkulit putih dan berhidung mancung. Mereka justru sebangsa dengan kita juga tetapi atas nama kepentingan ekonomi dan pembangunan yang semu rela mengorbankan segala yang kita miliki di negeri yang seharusnya subur ijo royo-royo ini. Kita seperti ayam yang mati di lumbung padi.

Lantas bagaimana caranya kita bisa bebas dari ‘penjajahan’ pemikiran ini? Bagaimana kita bisa memiliki akal merdeka ? kuncinya ada di kata merdeka itu sendiri.

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika akal dan jiwa kita tidak tunduk dan patuh pada pemikiran manusia.

Kemerdekaan yang sesungguhnya ialah ketika kita hanya tunduk dan menyembah kepadaNya langsung. Hanya patuh dan taat mengikuti petunjuk-petunjukNya. IlmuNya yang hak dan benar sepanjang jaman, bukan pada pemikiran manusia yang ilmunya dzon (dugaan) benar sesaat lalu kemudian diketahui salahnya belakangan lantaran adanya kepentingan politik, ekonomi, investasi dan berbagai kepentingan yang membelenggu lainnya.

Insya Allah bila akal kita merdeka, kita bisa  merasakan merdeka yang sesungguhnya. Merdeka! (*)

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: