Sst… Ini tentang “Sabar dan Syukur tanpa Tapi”

Fatma Fadhila

Saya pernah meminta nasihat dari seorang sahabat sebelum dia merantau. Nasihatnya singkat saja, hanya tiga kata. “Sabar dan syukur,” katanya. Itu membuat saya teringat janji untuk menuliskan review tentang buku karya kawan saya yang lainnya. Judulnya Sabar dan Syukur tanpa Tapi, ditulis oleh Taufik Aulia.

Jujur saja, saya mendengar istilah “sabar” dan “syukur” secara berurutan baru dari buku ini. Saya lebih familiar dengan sandingan kata “sabar dan salat”. Betapa heran saya, ketika mendapati berbagai materi kajian tentang kata “sabar” yang diikuti “syukur”, termasuk nasihat dari sahabat saya di atas. Ternyata kedua kata ini memang sudah cocok satu sama lain. Rupanya saya kurang banyak membaca.

Sedikit keluar jalur, barusan guru ngaji saya menceritakan anekdot tentang sabar dan syukur ini. Ada seorang wanita yang sangat cantik, namun suaminya tidak terlalu tampan. Orang-orang yang heran pun bertanya pada wanita ini. Jawab si wanita, “Dari sini saya bisa bersyukur dan bersabar sekaligus. Bersyukur dengan wajah seperti ini, dan bersabar dengan wajah suami.” Hehehe… Kesimpulannya, menurut guru ngaji saya itu, sabar dan syukur pasti selalu sepaket.

Oke, berikut pendapat saya selama membaca buku ini.

Sst… Kemarilah, Ada Rahasia Besar di Sini

Singkatan populer dari buku ini adalah SSTT, tetapi belakangan saya lebih suka menyingkatnya SST. Rasanya tidak lazim saja bila kata konjungsi seperti “tanpa” disertakan dalam singkatan, meskipun beberapa menggunakannya. Entahlah, saya belum tanya ahli bahasa.
Yang jelas, SST lebih nyaman untuk dibunyikan daripada SSTT. Ada banyak makna di balik bunyi “Sst…” yang sering kita dengar. Misalnya, kala kita memanggil seseorang, “Sst, sini, dong!” Atau sebagai perintah untuk diam, “Sst! Jangan berisik!” Kita juga sering menggunakannya kalau ingin berbagi rahasia dengan seseorang, “Sst! Jangan bilang siapa-siapa.”

Maka kalau digabung menjadi satu, buku yang dinamai SST ini sedang memanggil seseorang, lalu menyuruhnya diam karena hendak membagi suatu rahasia. Rahasia untuk bangkit dari titik krisis dalam hidup seseorang, seperti yang disampaikan dalam kata pengantarnya.

Perjalanan Pembaca

Buku ini dibagi menjadi empat bagian utama. Lalu biarlah saya menggambarkan keempat bagian itu seperti ini.

Bagian pertama isinya tentang kegalauan, atau, menurut kata pengantarnya, seputar jatuh bangun. Gaya bahasa yang digunakan lebih banyak seperti sedang curhat, entah itu pengalaman penulis sendiri, atau rangkuman dari cerita-cerita yang ditemui Taufik.

Bagian kedua, saya mendapati nuansa… apa ya, namanya? Marah-marah? Sepertinya istilah itu terlalu frontal. Yang jelas, setelah di bagian sebelumnya berbagai masalah itu dibungkus, bungkusan itu langsung dilemparkan telak ke wajah si pemilik masalah. Ada kesan yang tak bisa dijelaskan bahwa penulis sedang membalikkan semua masalah-masalah itu sebagai akibat dari perbuatan kita sendiri. Dalam konteks yang lebih halus, sebut saja bagian ini adalah bagian muhasabah. Bisa jadi persoalan yang kita rasakan ini karena kita begini dan begitu, dan sebab itulah yang harus kita buang jauh-jauh.

Singkatnya, di bagian satu seolah penulis sedang diam mendengarkan keluhan orang lain, di bagian dua dia langsung menggedor hatinya supaya sadar. Nilai-nilai islami pun mulai berhamburan di bagian ini, tentang hablun minallah dan hablun minannaas.

Barulah di bagian ketiga, pembaca kembali ditenangkan dengan taujih dan motivasi lainnya untuk maju. Berbeda dengan bagian kedua yang bernada menggebu, bagian ini terkesan adem, damai. Akhirnya di bagian keempat, pembaca disuguhi tips-tips untuk segera move on dari masalah yang sudah diselesaikan di bagian-bagian sebelumnya.

Perjalanan keempat bagian di atas mengingatkan saya pada berbagai training emotional dan spiritual yang pernah saya ikuti. Agenda dimulai dengan “pengakuan dosa” yang membuat terisak, peringatan keras yang membuat emosi memuncak, suasana melankolis yang menghadirkan rasa ingin kembali pada Allah, dan ditutup dengan resolusi yang membulatkan tekad.

Serasa Makan Sandwich

Pada setiap bagiannya, terdapat puluhan judul bab. Kebanyakan singkat, memang. Ada yang hanya setengah halaman, paling banyak tiga halaman. Tiap bab pun berbeda-beda. Ada yang sedang berbentuk sajak, taujih, maupun cerita yang mengalir. Semuanya dengan pilihan bahasa puitis yang sama.

Yang sedikit mengganggu saya, bentuk tulisan yang bervariasi itu diletakkan secara acak. Kadang sedang meresapi sebuah syair, berikutnya sudah dihantam narasi panjang. Ini membuat saya merasa sedang naik roller coaster, kadang tiba di puncak, kadang posisinya terbalik, kadang meluncur di jalur datar.

Ini terasa sekali terutama di bagian kedua. Awalnya sedang terhanyut dalam rangkaian tulisan tentang Alquran, mendadak disuguhi sepaket judul tentang dengki. Lalu tak lama kemudian, hanya diselingi beberapa topik lainnya, kembali membahas tentang renungan ruhiyah. Seperti sedang makan sandwich: roti, isi-isian seperti sayur dan daging, lalu roti lagi.

Setidaknya hal ini sudah ditutupi pembawaan global tiap bagian yang klimaksnya sesuai, sehingga perubahan suasana antarbab di tiap-tiap bagiannya masih bisa dinikmati.

Aku atau Saya?

Hal berikutnya yang menjadi perhatian saya adalah soal kata ganti orang pertama. Terkadang Taufik menggunakan “aku”, kadang “saya”. Bisa jadi ini karena faktor bahwa buku ini kumpulan tulisannya di blog atau media sosial lainnya, yang memang kata ganti ini sesuka suasana hatinya. Tetapi dalam proses editing, seharusnya kata ganti ini bisa diseragamkan; seluruhnya “aku” atau seluruhnya “saya”.
Kecuali jika betul dugaan saya ini. Taufik menggunakan kata ganti “aku” ketika dia sedang bercerita tentang dirinya sendiri, tentang perasaannya, seolah sedang menulis buku harian atau memaksudkan kata-katanya pada orang tertentu. Sedangkan “saya” dia gunakan ketika dia sedang benar-benar mengajak bicara pembaca secara umum atau bercerita tentang orang-orang atau kejadian di sekitarnya, seakan dia memang sedang membawakan materi di sebuah forum.Efeknya, tentu saja, berbeda. “Saya” membuat kita seperti sedang membaca buku motivasi atau mengikuti kajian. “Aku” menciptakan suasana puitis, sehingga pembaca, yang didominasi anak-anak muda kekinian, terbawa perasaan alias baper, mungkin dengan menyamakan untaian kalimat tersebut dengan kisah mereka sendiri.

Alquran dan Generasi Ini

Mungkin ada yang akan menanyakan, bagian mana yang paling saya sukai dalam buku ini?

Ada satu judul yang langsung membuat saya terbawa perasaan: Kami dan Al-Qur’an. Bab ini begitu menggelitik karena caranya mengenang Alquran yang tak biasa, bahkan terasa sangat wajar dengan kehidupan sekarang. Tidak dengan bahasa yang terlalu tinggi, yang biasanya hanya bisa dipahami mereka yang memang sudah jatuh cinta dengan Alquran.

Bab ini menyentil fakta bahwa, bagi mayoritas “generasi ’90-an” atau yang sebelumnya, belajar Alquran adalah bagian dari masa kecil yang tak terlupakan. Selalu ada senyum ketika mengingat bagaimana dulu kita belajar mengaji di masjid atau taman pendidikan Alquran, bagaimana kadang kita membolos dan kemudian dicari-cari, bagaimana keusilan kita dalam prosesnya, hingga bagaimana perasaan kita kala berhasil menyelesaikan satu tahap yang telah dijanjikan dan diberi hadiah untuk itu. Kita mengenang masa itu sebagai masa yang indah, bukan masa-masa suram meskipun kita nakal dan dimarahi.

Saya menyukai kesimpulan yang diambil Taufik, bahwa kenangan dengan Alquran itu sebenarnya merupakan bukti bahwa seburuk-buruknya kelakuan kita saat ini, sebenarnya Alquran masih ada di hati. Bahwa kita sebenarnya “tidak benar-benar berpaling dari Alquran”. Akan selalu ada kerinduan pada petunjuk hidup ini, meskipun butuh waktu untuk benar-benar kembali padanya.

Sesuatu yang, entah kenapa, berbeda rasanya ketika melihat anak-anak generasi Z.

Baca Saja Berkali-kali

Membaca SST tidak cukup sekali. Buku ini harus dibaca beberapa kali untuk bisa memahami apa yang dimaksud penulisnya. Isinya pun bukan melulu seputar galau dan bangkit, tetapi sangat erat kaitannya dengan muhasabah, evaluasi diri. Pantas saja buku ini dikelompokkan dalam rak “Agama” di toko-toko buku, bukannya rak “Motivasi”, karena memang penekanannya adalah bagaimana pembaca bisa menjadi bagian dari generasi rabbani.

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: